BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kelapa (Cocos nucifera L.) merupakan tanaman perkebunan industry berupa pohon batang lurus dari family palmae. Tanaman ini merupakan tanaman serbaguna atau tanaman yang mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Seluruh bagian pohon kelapa dapat dimanfaatkan untuk kepentingan manusia, sehingga pohon ini sering disebut pohon kehidupan (tree of life). Karena hampir seluruh bagian dari pohon, akar, batang, daun, dan buahnya dapat dipergunakan unuk kebutuhan hidup manusia sehari-hari.
Produktivitas kelapa rakyat 0,5 – 1 ton kopra per hektar per tahun adalah rendah bila dibandingkan dengan kemampuannya untuk berproduksi sampai 2,0 ton kopra. Rendahnya produksi ini, disamping belum menggunakan bibit unggul dan kurangnya pemeliharaan juga disebabkan oleh umur tanaman yang telah tua dan lingkungan tumbuh yang tidak sesuai. Kondisi yang demikian mengakibatkan pendapatan petani kelapa sangat rendah.
Untuk meningkatkan produktivitas kelapa dan pendapatan petani, kelapa tua perlu diremajakan, kelapa yang relative muda direhabilitasi. Penanaman baru atau perluasan harus mempertimbangkan kesesuaian lingkungan, dan meningkatkan nilai tambah dari produk yang dihasilkan tidak hanya kelapa butiran, kopra atau minyak akan tetapi aneka ragam produk yang berasal dari tanaman kelapa maupun dari tanaman sela yang ditanam diantara pohon kelapa.

1.2 Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui dan mempelajari budidaya kelapa sebagai salah satu sektor perkebunan yang bernilai komersil.

1.3 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan makalah ini berdasarkan tinjauan dan situs internet resmi yang telah diakses oleh penulis.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Sejarah Tanaman Kelapa
Kelapa merupakan tanaman perkebunan/industri berupa pohon batang lurus dari famili Palmae. Ada dua pendapat mengenai asal usul kelapa yaitu dari Amerika Selatan menurut D.F. Cook, Van Martius Beccari dan Thor Herjerdahl dan dari Asia atau Indo Pasific menurut Berry, Werth, Mearil, Mayurathan, Lepesma, dan Pureseglove. Kata coco pertama kali digunakan oleh Vasco da Gama, atau dapat juga disebut Nux Indica, al djanz al kindi, ganz-ganz, nargil, narlie, tenga, temuai, coconut, dan pohon kehidupan.
Berbicara mengenai persebaran kelapa, kita harus ketahui dulu mengenai persebaran kelapa liar dan persebaran kelapa yang sudah didomestikasi. Ketebalan kulit buah dan perkecambahan yang lamban dari kelapa liar (tipe Niu Kafa) membuat kelapa bertahan walaupun terapung dalam waktu yang lama di laut. Hal ini memungkinkan kelapa liar dapat melakukan "perjalanan jauh" sampai ke Indo-Pasifik jauh sebelum domestikasi di Malaysia. Sebaliknya, tipe Niu Vai (kelapa yang sudah didomestikasi) tidak bisa bertahan terapung di laut untuk waktu yang lama. Hal ini terjadi karena kulit buahnya tipis dan perkecambahannya lebih cepat walaupun batangnya kuat dan buahnya besar.
Persebaran kelapa yang sudah didomestikasi awalnya dilakukan oleh orang-orang Malaysia yang bermigrasi ke Pasifik dan India yang dimulai pada 3000 tahun yang lalu. Tanpa disadari, ternyata kelapa-kelapa liar sudah ada. Hal ini mendorong terjadinya persilangan antara kelapa liar dan kelapa yang sudah didomestikasi. Perlu diketahui pula bahwa navigator-navigator Polynesia, Malaya, dan Arab juga memainkan peranan penting dalam penyebaran lebih jauh kelapa ke Pasifik, Asia, dan Afrika Timur. Kelapa pun benar-benar menyebar ke berbagai wilayah setelah penjelajah-penjelajah Eropa pada abad 16 membawanya ke Afrika Barat, Karibia, dan pantai Atlantik.
Setidaknya terdapat tiga teori mengenai persebaran kelapa di dunia, yaitu teori dari O.F. Cook, Guppy, dan Beccari (Burkill, A Dictionary of The Economics Products of The Malay Peninsula, Vol. I, London, 1935). Cook berasumsi bahwa perjalanan yang diadakan dari Amerika oleh para pelayar pra-sejarah cukup berperan dalam distribusi kelapa ke Dunia Lama. Mereka menyebarkannya tidak hanya di Pasifik, tapi juga di berbagai wilayah di bagian Timur, di mana udara di sana cukup lembab untuk mempertahankan perkecambahan kelapa. Di daerah tersebut pun diperkirakan tidak ada kepiting yang akan mengganggu tanaman bibit seluruhnya. Teori ini diragukan karena tidak mungkin kelapa berasal dari pedalaman. Selain itu, pohon pun tidak dapat hidup jauh dari laut.
Teori kedua dari Guppy, menyatakan bahwa kelapa berada di pantai Amerika sebelum penduduk Polynesia mencapai daerah tersebut dan menyebarkannya ke wilayah Timur. Artinya, arus laut membawa kelapa-kelapa liar dari pantai Amerika Tengah menuju pulau Pasifik, kemudian para penduduklah yang menyebarkannya. Berbeda dari Guppy, Beccari dalam teorinya menyatakan bahwa kelapa-kelapa liar yang hanyut, menetap dengan sendirinya di Pantai Barat Dunia Baru sebelum kedatangan Columbus.
Terlepas dari perdebatan mengenai asal usul kelapa, pada dasarnya kelapa telah menyebar di daerah-daerah tropik, terutama di sepanjang pantai tropik. Buahnya yang ringan dan mudah terapung, membuat kelapa dengan sendirinya dapat menyebar karena adanya dorongan dari arus laut. Hal inilah yang dapat membawa kelapa-kelapa pada jarak-jarak tertentu, bahkan membawanya cukup jauh dari asal pohon itu sendiri.
Kelapa (Cocos nucifera) termasuk familia Palmae dibagi tiga: (1) Kelapa dalam dengan varietas viridis (kelapa hijau), rubescens (kelapa merah), Macrocorpu (kelapa kelabu), Sakarina (kelapa manis, (2) Kelapa genjah dengan varietas Eburnea (kelapa gading), varietas regia (kelapa raja), pumila (kelapa puyuh), pretiosa (kelapa raja malabar), dan (3) Kelapa hibrida.

2.2. Potensi Tanaman Kelapa
Kelapa dijuluki pohon kehidupan, karena setiap bagian tanaman dapat dimanfaatkan seperti berikut: (1) sabut: coir fiber, keset, sapu, matras, bahan pembuat spring bed; (2) tempurung: charcoal, carbon aktif dan kerajinan tangan; (3)daging buah: kopra, minyak kelapa, coconut cream, santan, kelapa parutan kering(desiccated coconut); (4) air kelapa: cuka, Nata de Coco; (5) batang klelapa: bahan bangunan untuk kerangka atau atap; (6) daun kelapa: Lidi untuk sapu, barang anyaman (dekorasi pesta atau Mayang); (7) nira kelapa: gula merah (kelapa).
Kelapa sejak awal sudah menjadi komoditas andalan Provinsi Gorontalo, sehingga hampir seluruh lahan yang sesuai untuk kelapa telah terpenuhi. Potensi kesesuaian lahan dan tersedia untuk pengembangan kelapa adalah sebesar 121.867 Ha, sedang luas eksisting tahun 2007 adalah 61.096 Ha. Dengan demikian potensi pengembangan 60.771 Ha. Potensi pengembangan terbesar adalah di Kabupaten Bone Bolango sebesar 28.345 Ha, kemudian Kabupaten Pohuwato seluas 9.688 Ha, Kabupaten Boalemo sebesar 8.192 Ha dan Kabupaten Gorontalo seluas 6.449 Ha.
Dari analisis kelayakan menunjukkan usaha produksi tanaman kelapa masih cukup layak dikembangkan. Analisis kelayakan terhadap pembangunan satu hektar kebun kelapa untuk menghasilkan kopra menunjukkan nilai: NPV positif = Rp 1.97 juta, Net B/C : 1.18, IRR : 20.2 % per tahun dan PP sebesar 5.57 thn.
Kondisi Tanaman Kelapa Dalam di Provinsi Gorontalo Tahun 2007
No. Kabupaten/Kota TBM TM TT/TR Total Persentase(%)
1 Kab. Gorontalo 3.435 14.641 1.631 19,707 33,58
2 Kota Gorontalo Na Na Na - -
3 Kab. Gorontalo Utara 2.909 5.323 1.892 10,124 17,25
4 Kab. Bone Bolango 1.244 4.691 1.010 6,945 11,83
5 Kab. Boalemo 2.451 4.762 1.210 8,423 14,35
6 Kab. Pohuwato 2.363 10.062 1.069 13,494 22,99
Jumlah 12.402 39.479 6.812 58.693 100.00
Persentase (%) 21,13 67,26 11,61

Produktivitas dan Produksi Kopra di Provinsi Gorontalo Tahun 2007
No. Kabupaten/Kota Luas Area TM 2007 (Ha) Produktivitas (Kg/Ha) Produksi (Ton) Persentase (%)
1 Kab. Gorontalo 14.641 884 12.942,6 22,96
2 Kota Gorontalo Na Na - -
3 Kab. Gorontalo Utara 5.323 3.105 16.527,9 29,32
4 Kab. Bone Bolango 4.691 1.238 5.807,5 10,30
5 Kab. Boalemo 4.762 1.416 6.743.0 11,96
6 Kab. Pohuwato 10.062 1.427 14.358,5 25,47
Jumlah 39,479
56.379,5 100.00
Rata-rata 1,428

Sumber:Dinas Perkebunan Dan Peternakan Provinsi Gorontalo. Data Statistik Perkebunan


Kelapa banyak terdapat di negara-negara Asia dan Pasifik yang menghasilkan 5.276.000 ton (82%) produksi dunia dengan luas ± 8.875.000 ha (1984) yang meliputi 12 negara, sedangkan sisanya oleh negara di Afrika dan Amerika Selatan. Indonesia merupakan negara perkelapaan terluas (3.334.000 ha tahun 1990) yang tersebar di Riau, Jateng, Jabar, Jatim, Jambi, Aceh, Sumut, Sulut, NTT, Sulteng, Sulsel dan Maluku, tapi produksi dibawah Philipina (2.472.000 ton dengan areal 3.112.000 ha), yaitu sebesar 2.346.000 ton.




















2.3. Botani Tanaman Kelapa
Determinasi tanaman Kelapa
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Ordo : Arecales
Famili : Arecaceae (suku pinang-pinangan)
Genus : Cocos
Spesies : Cocos nucifera L.

2.4. Pembukaan dan Pembersihan Lahan
Persiapan yang diperlukan adalah persiapan pengolahan tanah dan pelaksanaan survai. Tujuannya untuk mengetahui jenis tanaman, kemiringan tanah, keadaan tanah, menentukan kebutuhan tenaga kerja, bahan paralatan dan biaya yang diperlukan. Tindakan pembukaan lahan tergantung pada jenis dan kondisi lahan yang akan dibudidaya:
1. Lahan berupa hutan. Kegiatan yang dilakukan meliputi: (a) Penebasan semak atau perdubahkan apabila memungkinkan didongkel, dikumpulkan, dikeringkan dan dibakar, (b) Penebangan pohon, dengan tinggi penebangan tergantung besarnya pohon.
2. Lahan tanaman kelapa tua. Pohon kelapa tua ditebang pada leher akar. Apabila memungkinkan batang kelapa dapat dijual sebagai bahan bangunan.
3. Areal alang-alang.
Tindakan yang dilakukan dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu:
a). Alang-alang tinggi
 Babat alang-alang menjadi ± 20 cm, selanjutnya dibiarkan agar tumbuh
kembali sampai 30-40 cm.
 Semprot dengan herbisida yang mengandung bahan aktif glyphosate (Round up) sebanyak 5 liter, 2,4 diamine, MSMA, dan Dowpon. Pengguanan Round up untuk tiap hektar diperlukan.
 Setelah dua minggu, lakukan penyemprotan koreksi dengan cara spot spraying menggunakan round up sebanyak 0.5 liter per hektar
b). Alang-alang tinggi > 80 cm; Seperti pada point 2 dan 3 untuk alang-alang
4. Lahan bekas pertanian tidak perlu pembukaan lahan lagi, dan dapat langsung dilakukan tindakan-tindakan pengajiran, pembuatan lubang tanam, penanaman legume dan tindakan lain yang diperlukan selanjutnya.
Bedengan dibuat melingkar lokasi dengan diameter 200 cm untuk mencegah hujan masuk ke leher batang tanaman bibit. Pengapuran dilakukan apabila tanah mempunyai keasaman yang tinggi. Pengapuran dilakukan pada tanah sampai pH 6-8. Pemupukan menggunakan pupuk TSP sebanyak 300 gram untuk tiap lubang (lokasi yang ditanami) dengan cara dicampurkan pada tanah top soil yang berada di sebelah utara lubang, kemudian memasukkan tanah tersebut dalam lubang.

2.5. Teknis Pembibitan Tanaman Kelapa
Syarat pohon induk dapat dijadikan induk benih adalah berumur 20-40 tahun, produksi tinggi (80-120 butir/pohon/tahun) terus menerus dengan kadar kopra tinggi (25 kg/pohon/tahun), batangnya kuat dan lurus dengan mahkota berbentuk sperical (berbentuk bola) atau semisperikal, daun dan tangkainya kuat, bebas dari gangguan hama dan penyakit.
Ciri buah yang matang untuk benih, yaitu umur ± 12 bulan, 4/5 bagian kulit berwarna coklat, bentuk bulat dan agak lonjong, sabut tidak luka, tidak mengandung hama penyakit, panjang buah 22-25 cm, lebar buah 17-22 cm, buah licin dan mulus, air buah cukup, apabila digoncang terdengar suara nyaring.
Seleksi benih sesuai persyaratan, istirahatkan benih selama ± 1 bulan dalam gudang dengan kondisi udara segar dan kering, tidak bocor, tidak langsung terkena sinar matahari dan suhu udara dalam gudang 25-27 derajat C dan dilakukan dengan menumpuk buah secara piramidal tunggal setinggi 1 meter dan diamati secara rutin.
1. Pembibitan
a). Syarat lokasi persemaian: topografi datar, drainase baik, dekat sumber air dengan
jumlah cukup banyak, dekat lokasi penanaman.
b). Persiapan bedengan atau polybag
Olah tanah sampai gembur sedalam 30-40 cm, bentuk bedengan dengan lebar 2 m, tinggi 25 cm dan panjang tergantung lahan dengan jarak antar bedengan 60-80 m. Untuk polybag, terbuat dari polyethylene/poliprophylene berwarna hitam dengan ukuran 50 x 40 cm dan tebal 0.2 mm, bagian bawah berlubang diameter 0.5 cm dengan jarak antar lubang 7.5 cm sebanyak 48 buah untuk aerasi dan drainase dan diisi dengan tanah top soil halus (bila tanah berat harus dicampur pasir 2:1) setinggi 2/3.
c). Pendederan, dengan menyayat benih selebar ± 5 cm pada tonjolan sabut sebelah
tangkai berhadapan sisi terlebar dengan alat yang tajam dan jangan diulang.
d). Desifektan benih dengan insektisida dan fungisida (Azodrin 60 EC 0.1% dan
difolatan 4F 0.1%) selama dua menit.
e). Tanam benih dalam tanah sedalam 2/3 bagian dengan sayatan menghadap keatas
dan mikrofil ke timur.
f). Penanaman dengan posisi segitiga bersinggungan. Setiap satu meter persegi dapat
diisi 30 - 35 benih atau 25.000 butir untuk areal 1 hektar.
- Lama pembibitan 5-7 bulan; jarak tanam 60x60x60 cm; jumlah bibit 24.000/ha.
- Lama pembibitan 7-9 bulan; jarak tanam 60x60x60 cm; jumlah bibit 17.000/ha.
- Lama pembibitan 9-11 bulan; jarak tanam 60x60x60 cm; jumlah bibit 1.000/ha.
g). Bila disemai di bedengan, maka setelah benih berkecambah (panjang tunas 3-4
cm) perlu dipindahkan ke polybag.
h). Persemaian di polybag berlangsung selama 6-12 bulan, berdaun ± 6 helai dan
tinggi 90-100 cm.
2. Pembibitan Kitri
a) Syarat tempat: tanah datar, terbuka, dekat sumber air, dekat arel pertanaman, cukup subur dan mudah diawasi
b) Cara membuat bedengan:
- Tanah diolah sedalam 30-40 cm, dibersihkan dari gulma/batuan dan
digemburkan.
- Bentuk bedengan berukuran 6 x 2 x 0.2 meter dengan jarak antar bedengan 80
cm, sebagai saluran drainase.
c) Mengajir: Mengajir sesuai dengan jarak tanam bibit yaitu 60 x 60 x 60 cm.
d) Menanam kecambah:
- Menanam kecambah sesuai dengan besarnya benih.
- Menanam kecambah dalam lubang dengan tertanam sampai pangkal plumula.
3. Pemeliharaan saat pendederan, meliputi:
a) Penyiraman, dilakukan dengan menggunakan gembor atau springkel pada dua
hari I 5 liter/m2/hari, tiap pagi dan sore, dan Selanjutnya 6 liter/m2/hari. Untuk
mengetahui cukup tidaknya penyiraman, maka setelah 2 jam pada bagian sayatan
ditekan dengan ibu jari, apabila keluar air maka penyiraman telah cukup.
b) Pembersihan rumput-rumputan untuk mencegah adanya inang hama dan dan
penyakit.
4. Pemeliharaan pada saat pembibitan, yaitu:
a) Penyiraman, dilakukan sampai jenuh, selanjutnya dapat disiram dengan gembor,
selang atau spingkel pada pagi dan sore hari. Kebutuhan penyiraman per polybag
per hari, tergantung pada umur bibit.
b) Proteksi, dengan pemberian insektisida atau fungisida dengan dosis rata-rata 2
cc/liter dan disemprotkan pada tanaman sampai basah dan merata.
c) Penyiangan gulma, dilakukan setiap satu bulan sekali, dengan mekanis maupun
herbisida.
d) Pemupukan, yaitu Nitrogen, Phosphat, Kalium dan Magnesium yang dilakukan
setiap bulan sekali dengan mencampurakannya kedalam tanah polybag setebal 3
cm.
e) Seleksi bibit, meliputi: memisahkan tanaman yang kerdil, terkena penyakit dan
hama dan dilakukan terus menerus dengan interval 1 bulan setelah bibit berumur
1 bulan
Pemindahan bibit sebaiknya saat musim hujan, dengan cara:
1. Bibit kitri; dipindahkan dalam bentuk bibit cabutan yang dibongkar dari persemaian bibit. Umur bibit sewaktu pemindahan telah mencapai 9-12 bulan. Pemindahan harus hati-hati dan dijaga kitri dalam keadan utuh.
2. Bibit polybag; dipindahkan pada umur 9-12 bulan. Dua sampai tiga hari sebelum dipindahkan akar yang keluar dari polybag harus dipotong.

2.6. Teknis Penanaman Tanaman Kelapa
Sistem tanam yang baik yaitu sistem tanam segi tiga karena pemanfatan lahan dan pengambilan sinar matahari akan maksimal. Jarak tanam 9 x 9 x 9 meter, dengan pola ini jumlah tanaman akan lebih banyak 15% dari sistem bujur sangkar.
Pembuatan lubang tanam dilakukan paling lambat 1-2 bulan sebelum penanaman untuk menghilangkan keasaman tanah, dengan ukuran 60 x 60 x 60 cm sampai dengan 100 x 100 x 100 cm. Pembuatan lubang pada lahan miring (>20o) dilakukan dengan pembuatan teras individu selebar 1.25 m ke arah lereng diatasnya dan 1 m ke arah lereng di bawahnya. Teras dibuat miring 10 derajat ke arah dalam.
Penanaman dilakukan pada awal musim hujan, setelah hujan turun secara teratur dan cukup untuk membasahi tanah; waktu penanaman adalah pada bulan setelah curah hujan pada bulan sebelumnya mencapai 200 mm. Adapun cara penanaman adalah sebagai berikut:
1. Top soil dicampur dengan pupuk phospat 300 gram per lubang dan dimasukkan ke lubang tanam.
2. Polybag dipotong melingkar pada bagian bawah, dimasukkan ke lubang tanam, dan dibuat irisan sampai ke ujung, bejkas polybag selanjutnya digantungkan pada ajir untuk meyakinkan bahwa polybag sudah dikeluarkan dari lubang tanam. Arah penanaman harus sama.
3. Bibit ditimbuan tanah yang berada di sebelah selatan dan utara lubang, dipadatkan dengan ketebalan 3-5 cm diatas sabut bibit kelapa.
4. Kebutuhan bibit 1 ha, apabila jarak tanam 9 x 9x 9 m , segitiga sama sisi, adalah 143 batang dan bibit cadangan yang harus disediakan untuk sulaman 17 batangj, sehingga jumlah bibit yang harus disediakan 160 batang.
Setelah di tanam, tanah sekitar tanjaman ditutup dengan mulsa (daun-daunan hijau dari semak-semak, lalang atau rumput-rumputan lainnya dan juga jerami). Penanaman tanaman penutup dilakukan sebelum musim hujan dengan famili Legminosae (Legume Cover Crop, LCC) agar biji penutup tanah tidak membusuk. Keuntungannya menekan pertumbuhan gulma dan perkembangan hama Oryctes rhinoceros, memperbaiki kandungan nitrogen dan memperbaiki struktur tanah, mengurangi penguapan, mencegah erosi dan menahan aliran permukaan, memperkecil amplitudo temperatur siang dan malam.

2.7. Pemeliharaan Tanaman Kelapa
2.6.1. Penjarangan dan Penyulaman
Penyulaman dilakukan terhadap tanaman yang tumbuh kerdil terserang hama dan penyakit berat dan mati, dilakukan pada musim hujan setelah tanaman sebelumnya didongkel dan dibakar pada musim kemarau. Kebutuhan tanaman tergantung pada iklim dan intensitas pemeliharaan biasanya untuk 143 batang/Ha 17 batang.
2.6.2. Penyiangan
Penyiangan dilakukan pada piringan selebar 1 meter pada tahun, tahun kedua 1,5 meter, dan ketiga 2 meter. Caranya menggunakan koret atau parang yang diayunkan ke arah dalam, memotong gulma sampai batas permukaan tanah dengan interval penyiangan 4 minggu sekali (musim hujan) atau 6 minggu-2 bulan sekali (musim kemarau).

2.6.3. Pembubunan
Dilakukan setelah tanaman menghasilkan dengan cara menimbunkan tanah dibagian atas permukaan sekitar pohon hingga menutup sebagian batang pohon yang dekat dengan akar.
2.6.4. Perempalan
Dilakukan terhadap daun dan penutup bunga yang telah kering (berwarna coklat), dengan cara memanjat pohon kelapa ataupun dibiarkan sampai jatuh sendiri.
2.6.5. Pemupukan
Pemupukan dilakukan apabila tanah tidak dapat memenuhi unsur hara yang dibutuhkan.
a) Pada umur 1 bulan diberi 100 gram urea/pohon menyebar pada jarak 15 cm dari
pangkal batang.
c) Selanjutnya 2 kali setahun yaitu pada bulan April/mei (akhir musim hujan) dan bulan
Oktober/Nopember (awal musim hujan).
Cara pemberian pupuk:
1. menyebar dalam lingkaran mengeliling tanaman.
2. Pupuk N, K, Mg diberikan bersamaan sedangkan P 2 minggu sebelumnya.
3. Sebelum pupuk nitrogen diberikan, tanah digemburkan untuk menghindari pencampuran dengan pupuk phospat karena dapat merugikan. Pada tanaman belum menghasilkan disebarkaan 30 cm dari pangkal batang sampai pinggir tajuk.
4. Tutup dengan tanah daerah penyebaran pupuk.
Dosis pupuk tanaman kelapa sesuai umur tanaman (gram/pohon):
1. Saat tanam: RP = 100 gram/pohon.
2. Satu bulan setelah tanaman: Urea = 100 gram/pohon, TSP = 100 gram/pohon, KCl = 100 gram/pohon, Kieserite = 50 gram/pohon.
3. Tahun pertama
a) Aplikasi I: Urea = 200 gram/pohon, KCl = 300 gram/pohon, Kieserite 100 gram/pohon.
b) Aplikasi II: Urea = 200 gram/pohon, TSP = 250 gram/pohon, KCl = 300 gram/pohon, Kieserite = 100 gram/pohon, Borax = 10 gram/pohon
4. Tahun Kedua
a) Aplikasi I: Urea = 350 gram/pohon, KCl = 450 gram/pohon, Kieserite = 150 gram/pohon.
b) Aplikasi II: Urea = 350 gram/pohon, TSP = 600 gram/pohon, KCl = 450 gram/pohon, Kieserite = 150 gram/pohon dan Borax 25 gram/pohon.
5. Tahun ketiga
a) Aplikasi I: Urea = 500 gram/pohon, KCl = 600 gram/pohon, Kieserite = 200 gram/pohon.
b) Aplikasi II: Urea = 500 gram/pohon, TSP = 800 gram/pohon, KCl = 600 gram/pohon dan Kieserite = 200 gram/pohon.
6. Tahun Keempat
a) Aplikasi I: Urea = 500 gram/pohon, KCl = 600 gram/pohon, Kieserite = 200 gram/pohon.
b) Aplikasi II: Urea = 500 gram/pohon, TSP = 800 gram/pohon, KCl = 600 gram/pohon dan Kieserite = 200 gram/pohon.
2.6.6. Pengairan dan Penyiraman
Penyiraman dilakukan pada musim kemarau untuk mencegah kekeringan dilakukan dua atau tiga hari sekali pada waktu sore. Caranya dengan mengalirkan air melalui parit-parit di sekitarbedengan atau dengan penyiraman langsung.
2.6.7. Waktu Penyemprotan Pestisida
Dilakukan setiap 20 hari dengan mengggunakan Sevin 85 WP, Basudin 10 gram, Bayrusil 25 EC dengan kosenttrasi 0.4% setip 10 hari atau 0.6% setiap 20 hari. Caranya menggunakan sprayer.
2.6.8. Lain-lain
Perbaikan saluran drainase/cuci parit/kuras got dilakukan awal musim hujan dengan cara: memabat gulma dalam parit, menggaruk gulma pada dinding saluran dengan cangkul, dikumpulkan ditengah, pisahkan gulma dengan tanah dengan cara menghempas-hempaskan gulma dengan cangkul dan keluarkan semua kotoran dari parit, angkat tanah yang longsor kedalam parit, bentuk parit sesuai dengan ukuran, usahakan air dapat mengalir dengan baik, Pengerjaan dimulai dari muara ke hulu.
Ada beberapa cara melakukan sanitasi dalam budidaya tanaman kelapa, antara lain:
1. Cara sanitasi Gawang
a) membakar sisa-sisa kayu pada gawangan dengan hati-hati.
b) mengumpulkan sampah dan sisa-sisa kayu pada gawangan dengan tinggi tidak lebih 40 cm, luas tumpukan 1 x 1 meter.
2. Cara sanitasi pohon
a) membebaskan mahkota pohon dari segala kotoran dan bahan-bahan kering pada gawangan.
b) Membakar dengan hati-hati.

2.8. Pengendalian Hama dan Penyakit
Kumbang nyiur (Oryctes Rhinoceros) dengan ciri-ciri bentuk kumbang dengan ukuran 20-40 mm warna hitam dengan bentuk cula pada kepala, dengan gejala: hama ini merusak tanaman yang berumur 1-2 tahun; tanaman berumur 0-1 tahun, lubang pada pangkal batang dapat menimbulkan kematian titik tumbuh atau terpuntirnya pelepah daun yang dirusak; pada tanaman dewasa terjadi lubang pada pelepah termuda yang belum terbuka; ciri khas yang ditimbulkan yaitu janur seperti digunting berbentuk segi tiga; stadium yang berbahaya adalah stadium imago (dewasa) yang berupa kumbang; Pengendalian dengan cara sanitasi kebun terhadap sisa-sisa tebangan batang kelapa; menggunakan virus Bacullovirus oryctes dan Mettarrizium arrisophiae; memberikan carbofura (furadan 3G) atau carbaryl (sevin 5G) 10/pohon dengan interval 2 bulan sekali.
Sexava sp dengan cirri-ciri: belalang sempurna dengan ukuran 70-90 mm, berwarna hijau kadang-kadang coklat. Masa perkembangan 40 hari. dengan gejala: merusak daun tua dan dalam keadaan terpaksa juga merusak daun muda, kulit buah dan bunga-bunga; merajalela pada musim kemarau; pada serangan yang hebat daun kelapa tinggal lidi-lidinya saja. Pengendalian cara mekanis: menghancurkan telur dan nimfanya, menangkap belalang (di Sumatera dengan perekat dicampur Agrocide, Lidane atau HCH, yang dipasang sekeliling batang) untuk menghalangi betina bertelur di pangkal batang dan menangkap nimfa yang akan naik ke pohon; cara kultur teknis: menanam tanaman penutup tanah (LCC), misalnya Centrosema sp., Calopogonium sp., dan sebagainya; cara kemis: menyrmprot dengan salah satu atau lebih insektisida, seperti BHC atau Endrin 19,2 EC 2cc/liter air, menyemprotkan disekitar pangkal batang sampai tinggi 1 meter, tanah sekitar pangkal batang diameter 1,5 m 6 liter/pohon. Insektisida lain yang dapat digunakan: Sumithion 50 EC, Surecide 25 EC, Basudin 90 SC atau Elsan 50 EC; cara biologis: menggunakan parasit Leefmansia bicolor tapi hasilnya belum memuaskan.
Tikus pohon, Rattus rattus roque dengan ciri-ciri: hidup di tanah, pematang sawah, atau dalam rumah, dengan gejala: buah kelapa berlubang dekat tampuknya.; lubang pada sabut dan tempurung sama besarnya. Bentuk tidak rata kadang bulat, kadang melebar. Pengendalian dengan cara memburu tikus, memasang perangkap atau umpan-umpan beracun; sanitasi mahkota daun kelapa agar tidak menjadi sarang tikus.
Penyakit bercak daun (Gray leaf spot); penyebab cendawan Pestalotia palmarum Cooke, dengan gejala: timbul bercak-bercak yang tembus cahaya pada daun-daun dan kemudian berubah warna menjadi coklat kekuning-kuningan sampai kelabu; bercak-bercak bersatu membentuk bercak yang lebih besar yang terdapat bintik-bintik yang terdiri dari acervuli cendawan. Pengendalian: bibit disemprot dengan fungisida misalnya Dithane M-45 atau Perenox dengan dosis 0.1-0.2 %.
Penyakit busuk janur (spear rot) penyebabnya adalah cendawan Fusarium sp., dengan gejala: timbul becak-becak tembus cahaya pada permukaan daun yang kemudian segera menjadi coklat kekuningan dan sering bersatu membentuk becak yang lebih besar; pada becak terdapat bintik-bintik yang terdiri acervuli cendawan; daun yang terserang akan mati lebih cepat. Pengendalian: menyemprotan bibit atau tanaman muda dengan fungisida yang mengandung senyawa Cu, misalnya Bubur Bordo atau Koper Oxyclorida.
Penyakit bercak daun (Brown leaf) penyebabnya adalah cendawan Helminthosporium incurvatum, dengan gejala: pada permukaan daun timbul bercak-bercak bulat kecil yang kemudian bertambah besar dan berubah warna menjadi coklat tua; bercak-bercak tersebut kemudian berubah menjadi lonjong dan memanjang. Pengendalian: semprotlah bibit atau tanamanmuda yang baru dipindahkan dengan fungisida Difolatan 4F, Dithane M-45 atau Daconil 75 WP.
Penyakit rontok buah (Immature Nut Fall) penyebabnya adalah cendawan Phythophthora palmivora, dengan gejala: buah rontok; pada bagian pangkal buah terdapat bagian yang busuk. Atau sebagi akibat cendawan Thielaviopsis paradoxa. Pengendalian: pemupukan yang teratur dan pemberian air pada musim kemarau; menyemprot tanaman yang terserang dengan fungisida yang mengandung Cu, misalnya bubur Bordo atau Koper Oxyclorida.
Penyakit karat batang penyebabnya adalah cendawan Ceratostomella paradoxa. Gejala: batang menjadi rusak dan dari celah-celah batang yang berwarna karat akan keluar cairan, dimana jaringan pada bagian ini telah rusak; terjadi gangguan fisiologis yang mempengaruhi pertumbuhannya. Pengendalian: menyayat atau mengerok bagian yang rusak, tutup dengan penutup luka (misalnya ter).

2.9. Pengendalian Gulma
Adapun gulma yang menyerang tanaman kelapa, yakni:
1. Lalang (Imperata cylinddrica), pertumbuhan tinggi dapat mencapai 1-2 meter, penyebaran sangat cepat melalui rhyzoma (rimpang) maupun buahnya yang bersayap.
2. Teki (Cyperus rotrendus)
3. Lampuyangan (Panium repens)
4. Pahitan (Paspalum konjugatum)
5. Sembung rambat (Mikania cordata); tanaman ini mengeluarkan racun kepada tanaman lainmelalui cairan akarnya yang dapat menekan kegiatan bakteri pengikat nitrogen.
6. Tahi ayam (Lantana camara)
7. Kipahit (Euphathorium odorotum); tanaman ini dapat mencapai ketinggian 4-5
8. eter dan berbentuk belukar.
Cara pemberantasan gulma, meliputi:
1. Penyiangan secara mekanis: (1) clean weeding, pengendalian gulma secara keseluruhan pada areal pertanaman; (2) selecting weeding, pengendalian gulma pada sekitar tanaman saja (membuat piringan); pada tanaman berumur 0-1 tahun radius 100 cm. Pada tanaman berumur 1-2 tahun radius 150 cm, pada tanaman berumur lebih dari 2 tahun radius 200 cm; (3) piringan digaruk dengan cangkul, rumput-rumputan dibuang kelur piringan, interval 1 x 1 bulan; (4) stripe weeding, pengendalian gulma secara berjalur.
2. Penyiangan secara kimia: (1) mencampur paracol dengan air 2,5-3 liter/450 liter; (2) memasukkan herbisida ke dalam tangki sprayer dan memompa sampai batas barometer pada tanda merah (otomatis), bagi srayer semi otomatis menyemprot sambil memompa; (3) menyemprotkan pada gulma, dengan memperhatikan pengaman (arah angin, masker dan sarung tangan); (4) perkirakan saat penyemprotan yang tepat yaitu 6 jam setelah penyemprotan tidak hujan. Bila perlu gunakan sticker (perekat dan perata semprotan); (5) interval waktu 1 x 3 bulan


Jenis herbisida yang dipakai: (1) herbisida kontak, herbisida yang hanya mematikan bagian tanaman yang terkena dengan racun gulma ini; (2) herbisida sistemik, herbisida yang apabila dikenakan pada salah satu bagian tanaman maka akan tersebar keseluruh bagian tanaman melalui peredaran air dan zat hara, dan kemudian mematikan jaringan yang ada di atas dan di bawah permukaan tanah.

2.10. Panen
2.8.1. Ciri dan Umur Panen
Ciri: berumur ± 12 bulan, 4/5 bagian kulit kering, berwarna coklat, kandungn air berkurang dan bila digoyang berbunyi nyaring.
2.8.2. Cara Panen
1. Buah kelapa dibiarkan jatuh: kekurangan, yaitu buah yang jatuh sudah lewat masak, sehingga tidak sesuai untuk bahan baku kopra atau bahan baku kelapa parutan kelapa kering (desiccated coconut).
2. Cara dipanjat: dilakukan pada musim kemarau saja. Keuntungan yaitu (1) dapat membersihkan mahkota daun; (2) dapat memilih buah kelapa siap panen dengan kemampuan rata-rata 25 pohon per-orang. Kelemahan adalah merusak pohon, karena harus membuat tataran untuk berpijak. Di beberapa daerah di Pulau Sumatera, sering kali pemetikan dilakukan oleh kera (beruk). Kecepatan pemetikan oleh beruk 400 butir sehari dengan masa istirahat 1 jam, tetapi beruk tidak dapat membersihkan mahkota daun dan selektivitasnya kurang.
3. Cara panen dengan galah: menggunakan bambu yang disambung dan ujungnya dipasang pisau tajam berbentuk pengait. Kemampuan pemetikan rata-rata 100 pohon/orang/hari.
2.8.3. Periode Panen
Frekuensi panen dapat dilakukan sebulan sekali dengan menunggu jatuhnya buah kelapa yang telah masak, tetapi umumnya panenan dilakukan terhadap 2 bahkan 3 tandan sekaligus. Hal ini tidak begitu berpengaruh terhadap mutu buah karena menurut Padua Resurrection dan Banson (1979) kadar asam lemak pada minyak kelapa yang berasal dari tandan berumur tiga bulan lebih muda sama dengan buah dari tandan yang dipanen sehingga biaya panen dapat dihemat.
2.8.4. Prakiraan Produksi
Produksi buah bergantung varietas tanaman kelapa, umur tanaman, keadaan tanah, iklim, dan pemeliharaan. Biasanya menghasilakan rata-rata 2,3 ton kopra/ha/tahun pada umur 12-25 tahun. Sedangkan untuk kelapa hibrida pada umur 10-25 tahun mampu menghasilkan rata-rata 3,9 ton/ha/tahun.

2.11. Pengolahan Hasil
Pengolahan VCO Dengan Menggunakan Starter Ragi Tape
VCO adalah minyak kelapa yang diproses dari kelapa segar dengan atau tanpa pemanasan dan tidak melalui pemurnian dengan bahan kimia. Dibandingkan dengan minyak kelapa yang diolah secara tradisional, VCO memiliki keunggulan, yaitu kadar air dan asam lemak bebas rendah, tidak berwarna (bening), beraroma harum, dan daya simpan lebih lama. Dalam perkembangannya VCO telah dimanfaatkan sebagai bahan baku farmasi, kosmetik, dan pangan.
Saat ini telah berkembang pengolahan VCO tanpa pemanasan dengan menggunakan minyak pancing sebagai starter. Dengan cara ini harus disediakan dahulu minyak pancing. Petani yang baru pertama kali mengolah VCO biasanya sulit memperoleh minyak pancing. Oleh karena itu, perlu dicari cara lain yang lebih mudah untuk memecahkan emulsi santan/krim melalui proses fermentasi tanpa menggunakan minyak pancing.
Ragi tape yang biasanya digunakan dalam pembuatan tape, berpeluang digunakan dalam pengolahan VCO karena ragi tape mengandung mikroflora seperti khamir yang dapat menghasilkan lipase untuk memecah emulsi santan. Dengan demikian, selama proses fermentasi akan terjadi pemutusan ikatan kimia. Percobaan ini bertujuan untuk mempelajari teknik pembuatan VCO dengan menggunakan ragi tape.

Tahapan Pengolahan VCO
A. Penyiapan Bahan Baku
Buah kelapa yang akan diolah menjadi VCO adalah buah yang tua, yakni berumur 11-12 bulan, yang ditandai dengan kulit sabut berwarna coklat. Buah kelapa tua akan menghasilkan rendemen minyak yang tinggi.
B. Pembuatan Santan
Buah kelapa tua dikupas kemudian dibelah dan dagingnya dikeluarkan dari tempurung. Daging buah kelapa lalu diparut secara manual atau digiling menggunakan mesin. Hancuran daging buah lalu ditambah air dengan perbandingan 1:2. Selanjutnya, ekstrak dipres dengan mesin pengepres atau secara manual kemudian disaring sehingga diperoleh santan. Dari 30 butir kelapa (rata-rata bobot daging buah 400 g/butir) diperoleh 30 liter santan.
C. Pemisahan Krim
Santan yang diperoleh dituang pada ember plastik transparan, kemudian didiamkan 2 jam. Selama pendiaman, santan akan terbagi menjadi tiga lapisan, yaitu lapisan atas berupa krim (kaya minyak), lapisan tengah berbentuk skim (kaya protein), dan lapisan bawah berupa endapan. Krim dipisahkan dan digunakan sebagai bahan baku VCO.
D. Pembuatan Starter Ragi Tape
Pengolahan VCO menggunakan ragi tape diawali dengan membuat cairan starter ragi tape. Caranya, skim kelapa 450 ml dicampur dengan air kelapa 50 ml, kemudian ditambahkan ragi tape 2 g, diaduk sampai homogen, lalu didiamkan (difermentasi) pada suhu ruang selama 12 jam (Gambar 1). Penambahan air kelapa bertujuan untuk memperkaya nilai gizi media untuk proses perbanyakan ragi tape.
E. Pencampuran Krim dengan Starter Ragi Tape
Krim yang diperoleh, sekitar 12 liter, dibagi tiga bagian (masing-masing 4 liter), kemudian dicampur dengan starter ragi tape masing-masing 10%, 20%, dan 30%. Sebagai contoh, jika menggunakan starter tape 10% maka untuk krim 4 liter ditambahkan starter ragi tape 400 ml. Campuran diaduk homogen kemudian dituang pada wadah transparan dan didiamkan 8-10 jam. Selama proses pendiaman, campuran akan terpisah menjadi tiga lapisan, yaitu minyak (lapisan atas), blondo berwarna putih (lapisan tengah), dan air (lapisan bawah). Selanjutnya, minyak dipisahkan dari blondo dan air.
F. Penyaringan Minyak
Minyak yang diperoleh disaring menggunakan zeolit, yaitu sejenis batuan yang di samping berfungsi menyaring juga menyerap bau yang kurang enak dan menurunkan kadar air. Produk yang diperoleh dari penyaringan adalah VCO. Selanjutnya VCO dikemas dan ditutup rapat serta disegel.







G. Gambar Pembuatan VCO































Berdasarkan penelitian yang sudah ada, Pengolahan VCO dengan bantuan ragi tape sebagai starter konsentrasi 20% menghasilkan rendemen VCO 24,23%, kadar air 0,05% dan asam lemak bebas 0,01%, dengan aroma khas kelapa dan berwarna bening. Mutu VCO yang dihasilkan memenuhi standar APCC. Untuk pengolahan VCO dengan bantuan ragi tape disarankan menggunakan konsentrasi starter 20% agar diperoleh rendemen tinggi dan mutu VCO memenuhi standar.



























BAB III
PENUTUPAN

3.1. Kesimpulan
Kelapa merupakan salah satu tanaman yang memiliki nilai komersil dalam tanaman perkebunan, sehingga banyak masyarakat yang banyak membudidayakan tanaman tersebut . Untuk menghasilkan produktifitas kelapa yang berkualiatas dengan kuantitas yang banyak diperlukan penanganan yang khusus dalam pembididayaanya meliputi persiapan lahan, pembibitannya, teknis penanamannya, penendalian hama dan penyakit, pengendalian gulma dan yang terakhir pasca panen

3.2. Saran
Dalam budidaya kelapa tentunya harus melakukan penanganan-penanganan yang khusus. Hal ini untuk mendapatkan hasil yang berkualitas dan berkuantitas. Keritik dan saran yang sifatnya konstruktif sangat diperlukan oleh penyusun demi sempurnanya makalah tentang budidaya kelapa. Semoga makalah tentang budiaya kelapa dapat bermanfaat untuk umum.
















date Jumat, 12 Maret 2010

0 komentar to “MPT. PERKEBUNAN DAN INDUSTRI BUDIDAYA TANAMAN KELAPA (Cocos nucifera L.)”

Leave a Reply:

Mengenai Saya

Foto Saya
Seorg pria yg berusaha mengisi hidup dgn menjalankan ibadah, mengejar pendidikan,menjalin pertemanan,aktif kegiatan organisasi.. Seorg lelaki yg berusaha memberi manfaat dlm hdup utk org tua, agama, yg terkasih,org2 disekitarku.. Seorg pemuda yg berusaha memaknai hidup bahwa hari ini hrs lbh baik dari hari kemarin hari esok hrs lbh baik dari hari ini.. hidup adlh sebuah perjlanan utk mendapatkan apa yg kita impikan..

Cari Blog Ini

Memuat...