LAPORAN FIELDTRIP
MATA PRAKTIKUM MPT. PERKEBUNAN DAN INDUSTRI
“Budidaya Tanaman Kopi dan Kakao di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao
PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) XII Jember, Jawa Timur”

I.PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang
Kakao (Theobroma cacao, L) merupakan salah komoditas perkebunan yang sesuai untuk perkebunan rakyat, karena tanaman ini dapat berbunga dan berbuah sepanjang tahun, sehingga dapat menjadi sumber pendapatan harian atau mingguan bagi pekebun. Tanaman kakao berasal dari daerah hutan hujan tropis di Amerika Selatan. Di daerah asalnya, kakao merupakan tanaman kecil di bagian bawah hutan hujan tropis dan tumbuh terlindung pohon-pohon yang besar. Oleh karena itu dalam budidayanya, tanaman kakao memerlukan naungan.
Sebagai daerah tropis, Indonesia yang terletak antara 6 LU – 11 LS merupakan daerah yang sesuai untuk tanaman kakao. Namun setiap jenis tanaman mempunyai kesesuian lahan dengan kondisi tanah dan iklim tertentu, sehingga tidak semua tempat sesuai untuk tanaman kakao, dan untuk pengembangan tanaman kakao hendaknya tetap mempertimbangkan kesesuaian lahannya.

Melihat aspek yang ada tersebut, tentunya sebagai pelaku dalam dunia pertanian, kakao sangat penting untuk dikembangkan terutama di Negara Indonesia. Karena kakao dan kopi merupakan salah satu komoditi Indonesia yang masuk dalam daftar perkebunan penelitian yakni Pusat Penelitian Kakao dan Kopi. PT. Perkebunan Nusantara XII di Jember sebagi tempat tujuan fieldtrip, berusaha membantu petani kakao agar mampu meningkatkan produktivitasnya agar dapat bersaing di era globalisasi dengan program peningkatan produksi secara kuantitas dan kualitas, berdasarkan konsep kelestarian lingkungan (Aspek K-3).

I.2.Tujuan
Tujuan dari fieldtrip (studi lapang) mata praktikum MPT Perkebunan dan Industri ini yakni untuk mengetahui segala aspek agronomis tentang budidaya tanaman perkebunan kopi dan kakao di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) XII Jember, Jawa Timur.

II.PEMBAHASAN

II.1. Persiapan Lahan dan Tanaman Naungan
Tanaman kakao merupakan salah satu tanaman yang pertumbuhan dan perkembangannya tidak memerlukan banyak sinar matahari. Oleh karena itu dalam pengerjaan lahan juga harus diperhatikan aspek tanaman naungan. Tanaman naungan ini akan berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman kakao, tanaman naungan yang baik akan mengakibatkan produksi biji kakao yang berkualitas tinggi.
Pengerjaaan lahan tanaman kakao dikerjakan 2 (dua) tahun sebelum tabah di jadikan lahan budidaya atau disebut dengan system tahun tanam akan datang (TTAD). Pada pembukaan lahan berupa hutan dan semak belukar untuk lahan budidaya kakao, langkah awal yang dikerjakan adalah pembabatan semak belukar dan rumput-rumput liar. Pada lahan miring, terlebih dahulu harus dibuat teras lahan miring sebesar 15%. setelah pembersihan lahan ini, dibuat lubang tanam 60 x 60 x 60 cm dan diberi pupuk organik (pupuk kandang).
Selain pengerjaan lahan, tahap awal dalam proses budidaya tanamn kakao adalah penanaman tanaman naungan. Tanaman naungan ini diperlukan karena karakteristik dari tanaman kakao yang dapat tumbuh pada iklim tropis dengan 3 (tiga) bulan kering, dengan curah hujan lebih dari 100ml/ m3 , dan penyinaran sinar matahari selam 4-5 jam per hari. Tanaman naungan ditanam 1 (satu) tahun sebelum masa tanam dengan tanaman naungan sementara sebesar 1 : 1. Syarat tanaman dapat dijadikan tanaman naungan yakni tahan pangkas, adanya bintil akar, hidup di beberapa musim, dan berdaya nilai ekonomis.
Pohon pelindung ada dua jenis, yaitu pohon pelindung sementara dan pohon pelindung tetap. Pohon pelindung sementara bermanfaat bagi tanaman yang belum menghasilkan, terutama yang tajuknya belum bertaut. Pohon pelindung tetap bermanfaat bagi tanaman yang telah mulai menghasilkan.
Penanaman pohon pelindung tetap hendaknya dilakukan 12 – 18 bulan sebelum cokelat ditanam di lapangan. Hal ini mengisyaratkan bahwa cokelat harus sudah dibibitkan 4 – 6 bulan sebelumnya. Pohon pelindung yang sering digunakan, salah satunya adalah lamtoro. Jarak tanam untuk pohon pelindung biasanya adalah dua kali jarak tanam cokelat. Hal ini didasarkan pada peranan satu pohon pelindung yang berfungsi bagi empat pohon cokelat di dalam bagian pertanamannya. namun hal ini masih bergantung pada pola tanam yang diterapkan dan kemungkinan dilaksanakannya penjarangan pohon pelindung tetap itu.
II.2. Pembenihan
Proses awal dari pembudidayaan kakao ini yakni pemkecambahan benih. Benih kakao harus mengalami proses perkecambahan agar proses dormansi biji tidak terjadi. Media dari perkecambahan ini dari karung goni yang telah direndam oleh fungisida agar tidak terjadi proses penjamuran. Fungisida yang biasa digunakan adalah Mankozeat Mn-12, dan dektan. Karung goni tersebut dihamparkan kemudian biji disusun dengan jarak 2 x 3 cm, kemudian di tutup lagi dengan karung goni bagian atasnya, sehingga hamparan 1 (satu) karung goni berisi 1200 benih. Perlakuan tersebut dilakukan penyiraman tiap hari agar kelembaban dapat terjaga.
Selain media karung goni, perkecambahan benih juga dapat dilakukan pada media pasir. Media pasir dibuat bedengan yang membujur dari arah utara ke selatan, diberi atap naungan yang terbuat dari daun tebu atau daun kelapa, dapat juga menggunakan paranet warna hitam atau putih. Media tanam terdiri dari lapisan bawah tanah, lapisan kedua batu kerikil setebal 10 cm , dan lapisan atas berupa pasir halus setebal 20 cm. benih diletakkan pada media dengan jarak 2,5 x 4 cm, dengan radikula menghadap ke bawah, sehingga dalam 1 (satu) bedengan terdapat 1000 benih. Kemudian ditutup dengan jerami, dan dilakukan penyiraman setiap hari. Setelah 4 (empat), benih akan berkecambah dan dapat dilakukan pemindahan ke polybag. Kriteria benih dapat dipindah ke polybag yakni radikula telah tumbuh sepanjanh 1-2 mm, dan umur benih 12 hari.
II.3. Pembibitan
Tahap selanjutnya dapat dilakukan pembibitan tanaman kakao. Syarat lahan dapat dijadikan lahan pembibitan yakni lahan dekat dengan sumber air, drainase baik, dekat dengan lahan penanaman, serta ada pohon pelindung dari tiupan angin yang kencang. Pembibitan dilakukan dalam polybag plastik berukuran 20 x 30 cm, tebal 0.8 cm, serta lubang drainase minimal sebanyak 18 buah yang berdiameter 1 cm. Media pembibitan berupa tanah lapis olah, pupuk kandang, dan pasir yang telah diayak dengan perbandingan pencampuran 1:1:1. Benih ditanam di tengah – tengah polybag, yang medianya telah dipadatkan.
Polybag yang telah berisi benih-benih tersebut disusun rapi di suatu areal dengan jarak antar polybag 15 x 15 cm atau 15 x 30 cm. Pada areal tersebut, diberi atap naungan yang terbuat dari daun kelapa, daun tebu, atau paranet. 2 (dua) minggu sebelum pemindahan bibit, atatp naungan dibuka secara bertahap. Pemeliharaan pada masa pembibitan ini, dapat berupa pemupukan urea yang diberikan setiap 2 minggu pada lingkar tajuk bibit sebesar 2 gram per tanaman, penjarangan bibit apabila daun bibit tumpang tindih dan pertumbuhannya tidak seragam, serta penyemprotan pestisida kimiawi. Kriteria bibit dapat pindah dilapang yakni usia bibit telah mencapai 3-5 bulan, tinggi tanaman 40-60 cm, daun sebanyak 12 helai, serta diameter batang 0,7 -1 cm.
Selain pembibitan di lahan, perbanyakan tanaman kakao dapa juga dilakukan dengan teknik bibit sambung, dimana untuk mendapatkan tanaman klonal dilakukan penyambungan bibit secara klonal. Bibit yang telah berumur 3-5 bulan sehat, dan kekar telah dapat dijadikan batang bawah dari teknik bibit sambung ini. Sedangkan untuk batang atas atau entres, harus memenuhi criteria seperti umur sama atau hampir sama dengan batang bawah, cabang plagiotrop sehat dan tidak bertunas, warna batang hijau kecoklatan serta berdiameter 1 cm.
Teknik sambung bibit dapat dilakukan dengan cara memotong batang bawah secara mendatar dan disisakan 3-4 helai daun saja, kemudian batang entres disayat kedua sisi, hingga runcing seperti baji, dan disisipkan dengan batang bawah. Sambungan ini diikat dengan tali plastik dan ditutup dengan kantong plastik. Setelah 3 (tiga) bulan maka akan muncul tunas, kantong plastik dapat dilepas tanpa melepas ikatan tali, dan pada usia 7 (tujuh) bulan bibit telah siap tanam.
II.4. Penanaman
Untuk mendapatkan areal penanaman yang sebaik – baiknya, dianjurkan untuk menetapkan pola tanam terlebih dahulu. Pola tanam erat kaitannya dengan keoptimuman jumlah pohon per hektar, keoptimuman peranan pohon pelindung, dan meminimumkan kerugian yang timbul pada nilai kesuburan tanah, serta biaya pemeliharaan. Ada empat pola tanam yang dianjurkan, yaitu:


a)Pola tanam cokelat segi empat, pohon pelindung segi empat.
Pada pola tanam ini, seluruh areal ditanami menurut jarak tanam yang ditetapkan. Pohon pelindung berada tepat pada pertemuna diagonal empat pohon cokelat.
b)Pola tanam cokelat segi empat, pohon pelindung segi tiga.
Pada pola tanam ini, pohon pelindung terletak di antara dua gawangan dan dua barisan yang membentuk segi tiga sama sisi.
c)Pola tanam, cokelat berpagar ganda, pohon pelindung segi tiga.
Pada pola tanam ini, pohon cokelat dipisahkan oleh dua kali jarak tanam yang telah ditetapkan dengan beberapa barisan pohon cokelat berikutnya. Dengan demikian, terdapat ruang di antara barisan cokelat yang bisa dimanfaatkan sebagai jalan untuk pemeliharaan.
d)Pola tanam cokelat berpagar ganda, pohon pelindung segi empat.
Penanaman tanaman kakao sebaiknya dilakukan pada musim penghujan, sebab ketersediaan air terjaga, misalnya pada bulan desember. Jarak tanam yang digunakan untuk tanaman kakao ini sebesar 3 x 3 meter, sehingga areal lahan 1 hektar terdapat 1100 pohon.
Penanaman kakao pada benih yang siap tanam dilakukan dengan cara menggali tanah. Tanah galian yang paling atas pertama diletakan sebelah timur galian, sedangkan tanah galian bawah kedua diletakan pada bagian barat. Setelah benih dimasukan dalam lobang, tanah atas sebelah timur dimasukan dahulu kemudian diikuti tanah bawah sebelah barat. Hal ini dilakukan agar akar kakao mendapat unsure hara yang lebih banyak, mengingat unsur hara terbanyak terletak pada tanah top soil yaitu tanah lapisan atas. Pupuk kandang diperlukan dalam meningkatkan kesuburan fisik tanah pada penanaman.
II.5. Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman kakao meliputi pemeliharaan tanaman belum menghasilkan (TBM I), TBM II, dan TBM III. Pemeliharaan meliputi wiwilan, pengendalian gulma, hama, dan penyakit, pemupukan, serta pemangkasan. Pada TBM II ada perlakuan pemeliharaan khusus yakni pemangkasan bentuk pada musim hujan. Pemupukan bertujuan untuk menjaga stabilitas pertumbuhan tanaman, dan meningkatan produksi tanaman.
Pupuk yang diberikan kepada tanaman harus sesuai dengan kebutuhan tanaman berdasarkan hasil analisa tanah setiap tahun dan penghitungan neraca hara. Pemupukan diberikan setiap 2 (dua) kali setahun pada awal musim hujan yakni bulan Oktober sampai November, dan akhir musim hujan pada bulan maret sampai april. Pupuk ditaburkan pada lingkar tajuk jarak 1-2 meter dari tanaman yang telah di cangkul dan di bersihkan dari gulma, dengan parit kedalaman 10 cm, setelah ditabur pupuk parit ditutup kembali dengan tanah. Kebutuhan unsure pupuk pada tanaman dapat diperoleh dari jenis-jenis pupuk yang ada seperti bahan pupuk nitrogen dari pupuk urea, dan Za, phospat dari SP36, dan rock phosphate, pupuk kalium dari KCL, serta magnesium dari dolomite dan kristerine.
Pemeliharaan tanaman menghasilkan (TM) berupa pembungan tunas / wiwilan selama 1 bulan sekali, pemangkasan produksi, dan pemupukan. Pemangksan produksi dilakukan untuk mempertahankan kerangka, menghilangkan cabang yang sakit dan cabang yang tumpang tindih. Pemangkasan dapat dilakukan pada saat tanaman telah mencapai ketinggian 4 meter, dan dilakukan pada bulan maret-april, atau oktober-november dengan system SSR (sedikit, sering, rindang)
II.6. Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama yang sering menyerang tanaman kakao yakni hama penggerek buah kakao (PBK) yang sangat merugikan karena menyerang buah dan daun. Gejala dari serangan ini yakni buah busuk dengan stadium larva, warna kulit buah pudar dan belang hijau kuning, daging buah hitam, biji keriput dan melekat pada daging buah. Selain PBK, tanaman kakao juga mengalami penyakit busuk buah dan bercak daun. Pengendalian hama dan penyakit tanaman kakao dilakukan secara kimiawi dan hayati. Pengendalian kimiawi dengan cara pemberian pestisida, pupuk, dan insektisida. Pengendalian secara hayati secara pemangkasan, pembuangan buah yang terserang, serta pemanfaatan semut hitam.
II.7. Panen
Buah cokelat bisa dipanen apabila terjadi perubahan warna kulit pada buah yang telah matang. Sejak fase pembuahan sampai menjadi buah dan matang, cokelat memerlukan waktu sekitar 5 bulan. Buah matang icirikan oleh perubahan warna kulit buah dan biji yang lepas dari kulit bagian dalam. Bila buah diguncang, biji biasanya berbunyi. Ketelatan waktu panen akan berakibat pada berkecambahnya biji di dalam

date Sabtu, 06 Maret 2010

0 komentar to “Budidaya Tanaman Kopi dan Kakao”

Leave a Reply:

Mengenai Saya

Foto Saya
Seorg pria yg berusaha mengisi hidup dgn menjalankan ibadah, mengejar pendidikan,menjalin pertemanan,aktif kegiatan organisasi.. Seorg lelaki yg berusaha memberi manfaat dlm hdup utk org tua, agama, yg terkasih,org2 disekitarku.. Seorg pemuda yg berusaha memaknai hidup bahwa hari ini hrs lbh baik dari hari kemarin hari esok hrs lbh baik dari hari ini.. hidup adlh sebuah perjlanan utk mendapatkan apa yg kita impikan..

Cari Blog Ini

Memuat...